RSS

Hari Sibuk

23 Sep

Selasa, 23 Juli 2013

Bagi setiap perantau, pulang kampung adalah hal yang sangat dinanti-nanti. Sama halnya dengan para santri dan santriwati Pesantren Media. Hari ini, adalah tepat hari ketika mereka resmi dilepaskan untuk kembali kepada orang tua mereka tercinta.

Sebenarnya, santri-santri sudah mulai sedikit-sedikit pulang sejak tanggal 17 Juli 2013. Hingga akhirnya, sisa santri yang masih belum pulang hingga hari ini ada … orang. Hari ini, empat orang santriwati akan pulang.

Empat orang itu adalah Teh Maila (2 SMA), Teh Mila (1 SMA), Teh Ela (1 SMA), dan Wigati (1 SMP). Keempat orang ini, akan pulang menuju kampung halaman masing-masing menggunakan pesawat terbang. Mereka akan diantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Aku dan dua temanku, Mufiddah dan Putri, ditugaskan Umi untuk mengantarkan mereka ke Bandara.

Pagi hari, aku dibangunkan oleh Umi jam 3 pagi. Aku langsung melaksanakan Sholat Tahajjud 2 rokaat dan Sholat Witir 1 rokaat.

Setelah sholat dan berdoa, aku segera naik ke lantai dua Pesantren Media untuk memastikan para santriwati sudah bangun. Alhamdulillah, sebagian santri sudah bangun.

Aku membantu Umi menyiapkan makanan untuk sahur. Hari ini, kami sahur dengan nikmat. Tak lupa kami membaca doa.

Kata Umi, kami akan berangkat menuju Bandara menggunakan Bus Damri. Kami akan diantar ke tempat Bus Damri oleh Pak Dadi. Pak Dadi adalah supir angkot yang juga anaknya Bu Cucun, juru masak Pesantren Media.

Kami berangkat dari Pesantren Media jam lima pagi. Aku dan teman-teman yang lain melambaikan tangan kepada Umi.

Perjalanan menuju Terminal Damri tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena masih pagi, jalanan masih sepi. Sehingga, kami bisa berjalan dengan lancar sampai ke terminal.

Sampai di terminal, aku segera membelikan tiket untuk tujuh orang. Satu tiket berharga Rp. 45.000,-. Kami akan menaiki Bus Damri yang menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Menurut Informasi, kami akan berangkat sekitar jam enam. Dan benar. Bus mulai berjalan pada jam enam pagi.

Suasana di dalam bus sangat dingin. Posisi kursi-kursi di bus adalah dua orang-dua orang. Karena kami bertujuh, aku duduk sendiri bersama seorang bapak yang tidak ku kenal. Tapi itu tidak masalah. Karena bus ini ramai dan aku sendiri belum baligh.

Di dalam bus damri yang kami gunakan ini, ada fasilitas wifi. Sehingga, kami bisa menggunakan internet dengan wifi damri di sini. Di bus ini juga ada fasilitas kamar mandi. Namun, aku merasa sulit karena goncangan yang besar.

Di perjalanan, aku tidak bisa mengamati pemandangan di jalan menuju Jakarta. Bapak yang berada di sampingku tidak membuka gorden bus. Sehingga, aku duduk mendongak ke depan agar bisa melihat pemandangan jalan. Aku sempat heran. Melihat rumah-rumah kumuh yang berada di belakang hotel yang mewah. Sungguh aneh negeri ini.

Kami tiba di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta sekitar jam delapan pagi. Aku yang tidak tidur segera membangunkan teman-temanku yang tertidur. Aku juga mengingatkan agar tidak meninggalkan barang bawaan mereka.

Saat turun, kami langsung mengambil kereta dorong. Karena barang bawaan kami lumayan banyak dan sebagian berat.

Aku segera mengusulkan untuk mampir ke toilet terlebih dahulu. Saat di bus tadi, aku menahan buang air kecilku. Karena, aku merasa sulit kalau harus berhajat di sana.

Setelah dari toilet, Teh Ela, ditemani Mufiddah mengeprint tiket di counter Lion Air. Sedangkan Teh Mila, ditemani Teh Maila masuk ke counter Sriwijaya. Teh Mila langsung ceck in. Sedangkan Teh Ela, ceck innya jam sepuluh nanti. Teh Maila dan Wigati, memiliki jurusan yang sama. Lion Air. Namun, mereka harus menunggu kiriman nomor tiket dari Ayahnya Teh Maila. Menurut kabar, mereka akan berangkat jam … malam. Masih lama, dong..

Sambil menunggu, Mufiddah dan Teh Maila, yang sedang tidak sholat, makan di AW. Wigati yang tadinya puasa, akhirnya membatalkan puasanya. Dia kan sedang syafar. Aku, Putri dan Teh Ela menuggu di luar.

Tak lama setelah yang tidak puasa selesai makan, dua orang perempuan mendekat kepada kami. Dua orang itu adalah petugas survey. Mereka akan mensurvey para pengguna jasa Bandara tentang kenyamanan fasilitas bandara.

Sekitar jam setengah sepuluh, aku, Mufiddah, dan Putri pulang. Kami pulang kembali menggunakan bus damri. Perjalanan di bus damri ini, lebih menyenangkan. Karena, busnya tidak sedingin bus keberangkatan tadi. Lagi pula, aku juga sudah lelah. Sehingga, selama di perjalanan, aku tertidur.

Aku terbangun saat bus sudah memasuki kota Bogor. Atau lebih tepatnya, di Tol Jagorawi.

Setelah sampai di tempat pemberhentian bus damri, kami tidak langsung pulang. Mufiddah mengajak aku dan Putri untuk mampir ke Toko Al-Amin. Katanya, ia ingin membeli sesuatu di sana.

Sampai di Al-Amin, aku teringat bahwa sore ini, kami akan mengisi acara Buka Bersama di Masjid Nurul Iman. Putri mengusulkan agar kami mengisi acara tersebut dengan menayangkan sebuah film. Kemudian kami akan mengajukan pertanyaan. Siapa yang bisa menjawab, akan diberi hadiah. Usulan tersebut langsung disetujui oleh kami bertiga.

Pulang ke rumah, jam sudah menunjukkan jam … Kami sangat lelah. Tapi, kami harus mempersiapkan hadiah untuk acara BukBer nanti. Aku, Mufiddahdan Putri bersama-sama membungkus kado untuk hadiah.

Setelah membuat 12 kado, aku, Mufiddah dan Putri mencoba untuk menonton film yang tadi kami beli. Sekalian kami juga membuat pertanyaan-pertanyaan untuk acara BukBer nanti.

Acara BukBer berlangsung sangat meriah. Aku dan dua temanku mendapat sambutan hangat dari Bu Hindun, penanggung jawab BukBer. Kami sangat senang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 September 2013 in Cerita

 

Komentar, yuk!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: